Cegah Sebaran, UPTD Puskesmas Kesamben, Aktif Lakukan Skrining TB Gratis di Wilker Kerjanya
Jombang, layanga.co – UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Puskesmas Kesamben, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur melakukan penemuan kasus TB secara aktif berkolaborasi dengan STPI (Stop TB Partnership Indonesia).
Kegiatan ini merupakan langkah jemput bola secara proaktif untuk mencari/menemukan, mendeteksi, dan mencegah penularan guna eliminasi mengobati penderita TBC, sebelum penyakit menyebar lebih luas kepada masyarakat.
Untuk itu, tim Puskesmas Kesamban melakukan kegiatan SSTB (Skrining Sistematis Tuberkulosis), pada Rabu, (01/07/2026) bertempat di Balai Desa Kedungmlati, melibatkan 14 petugas medis, terdiri dari seorang dokter umum, dua orang dokter intensif, lainnya merupakan nakes Puskesmas, seperti perawat, ada tenaga laboratorium.
Tercatat sebanyak 225 warga sasaran datang mengikuti pemeriksaan, mereka berasal dari Desa Kedungmlati dan Desa Kedungbetik. Puskesmas Kesamben yang melayani 8 desa dari 14 desa di Kecamatan Kesamben, pada tahun 2026 ini memperoleh program ini sebanyak tiga kali yang dipusatkan pada tiga titik, yakni di Desa Kesamben, di Desa Kedungmlati dan selanjutnya di Desa Jombatan.
Para warga tersebut satu persatu mengikuti prosedural, mulai dari pendaftaran, timbang berat badan, ukur tinggi badan, wawancara skrining gejala TB, foto rontgen, pemeriksaan TST (Tuberkulin Skin Test) untuk melihat infeksi laten TB, dilanjutkan pemeriksaan PCM dahak bagi penderita yang batuk lebih dari satu minggu.
Kepala Puskermas Kesamben, dr Helena Agustine Mayang Sari melalui Kepala Bagian Penanganan TB, Eny Purwanti di lokasi kegiatan mengatakan, sasaran mengutamakan warga yang pernah kontak dengan pasien TB, terduga TB, orang dengan DM, balita dengan gizi buruk, dan ODHIV.
“Chek up ini, juga dilakukan kepada orang terdekat yang melakukan kontak 5-8 dalam sehari,” terang Eny Purwanti.
Kegiatan ini berkolaborasi dengan STPI yang menyediakan portable x-ray untuk melakukan rontgen pada seluruh sasaran SSTB.
Eny Purwanti menyebutkan, hasil pemeriksaan ini baru bisa diketahui setelah tiga hari, setelah pemeriksaan TCM (Test Cepat Molekuler), yakni pemeriksaan laboratorium yang menggunakan metode amplifikasi asam nukleat (DNA) untuk mendeteksi bakteri penyebab penyakit, khususnya Tuberkulosis (TBC).
“Jadi, dahak dari penderita TB, akan dikirim ke laboratorium RSUD Jombang untuk mengetahui hasil pasti masing-masing penderita. Selanjutnya, penderita yang terdeteksi akan mendapatkan pengobatan intensif, yaitu diminta mimun obat anti tubercolusis (OAT),” jelas Eny Puswanti.
Selain itu, dengan hasil TST positif akan diberikan TPT (Terapi Pencegahan TBC), imbuhnya. (dan)














