Home / Tak Berkategori

Peringati HJD ke-620 Tahun 2026 Podoroto Gelar Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa

- Penulis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Pasang Iklan Murah di Layang.co!
Pasang Sekarang

Perangkat desa dan tokoh masyarakat Desa Podoroto, Jum’at (15/10/2026) photo bersama Dian Sukarno (batik/tengah) dan Gus Dyan (putih/tengah) dalam rangkaian Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa, dan photo makam Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi yang oleh masyarakat setempat menyebutnya makam Mbak Sentono. Photo https://layang.co

Perangkat desa dan tokoh masyarakat Desa Podoroto, Jum’at (15/10/2026) photo bersama Dian Sukarno (batik/tengah) dan Gus Dyan (putih/tengah) dalam rangkaian Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa, dan photo makam Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi yang oleh masyarakat setempat menyebutnya makam Mbak Sentono. Photo https://layang.co

Peringati HJD ke-620 Tahun 2026 Podoroto Gelar Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa

Jombang, layang.co – Pemerintah Desa Podoroto, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, pada Jum’at (15/10/2026) malam melakukan tasyakuran, dilanjut dengan Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa dalam upaya memperingati Hari Jadi Desa (HJD) tahun 2026.

Perayaan dilakukan di kompleks makam tokoh yang membabah keberadaan Desa Podoroto, 620 tahun lalu yang memangku 5 dusun, meliputi Dusun Garu, Dusun Kedungboto, Dusun Kedungdowo, Dusun Kalimati dan Dusun Ngemplak. Dialog bertempat di lingkup makam Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi yang ada di wilayah RT 13 Dusun Garu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tasyakuran dengan cara makan bersama nasi tumpeng, diawali dengan tahlil membacakan do’a kepada Alloh SWT disampaikan untuk arwah tokoh yang membabah atau siar agama Islam di wilayah Desa Podoroto. Hadir Kepala Desa Adhim, Sekretaris Desa Umar Fauzi beserta perangkat desa, Kepala Dusun, para RW, para RT dan tokoh masyarakat setempat.

Sejarawan Dian Sukarno dan Gus Dyan Hadi Yuwono

Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa menghadirkan nara sumber sejarawan, penulis buku Dian Sukarno bersama Gus Dyan Hadi Yuwono, pemerhati sejarah dan kolektor naskah kuno Kediri.

Dian Sukarno saling mengisi materi bersama Gus Dyan menyampaikan sejarah berdirinya Desa Podoroto dalam dialog sekitar 2 jam, didengar dan dimaknai oleh warga secara seksama. Materi dituangkan dalam bentuk Buku “Simpul Sejarah Podoroto”.

Rekomendasi Tetenger Desa Podoroto

Buku setebal 366 halaman di kerjakan selama satu tahun, diawali ringkasan frakmen-frakmen dengan riset literasi dan kajian berbagai sumber, pengumpulan dokumen penting yang terkait dengan riwayat peradaban keberadaan perkampungan, lima dusun, menyingkap memorabolia (kenangan) para leluhur melalui kisah-kisah tutur, termasuk penelusuran adanya makam Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi, yang berada di tengah perkampungan.

Dian mengungkapkan, mengacu paparan data artefaktual, arkeologis, etnoarkeologi, etnografi, topografi dan toponimi, serta dasar-dasar dan tolok ukur penentuan hari jadi desa Podoroto dengan beberapa dasar:

12 Nopember 1290 Masehi. Tanggal tersebut merupakan kedatangan teliksandi (mata-mata) dan prajurit khusus Mongol dari suku Hui-hui yang beragama Islam. Kedatangan untuk menyelidiki Raja Singasari Prabu Kertanegara. Akibat cuaca yang esktrim akhirnya banyak diantara prajurit meninggal. Diduga dimakamkan di kawasan Trogonong, Desa Podoroto.

4 Pebruari 1406 Masehi. Merupakan konfirsi kedatangan Syeh Maulana Khafi alias Kyai Wirasaban yang menginjakkan kaki di Podoroto pada kisaran 5 Sya’ban 808 Hijriyah, untuk menjalankan misi dahwah agaman Islam.

Dari dua penelurusan tersebut, Pemerintah Desa Podororo memilih, menentukan tahun kelahiran Desa atau Hari Jadi Desa jatuh pada 12 Nopember. Yang pada tahun 2026 ini dirayakan pada tanggal 17 Oktober 2026.

17 Oktober Puncak Perayaan Hari Jadi Desa 2026

Dengan aganda awal, Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa, tanggal 15 Oktober, kemudian dilanjutkan tanggal 17 Oktober puncak perayaan hari jadi desa dengan menggelar agenda acara do’a bersama, khotmil Qur’an, istighosah, pada 7 titik,  meliputi 5 masjid pada 5 dusun, di makam Mbah Sentono dan di Balai Desa Podoroto. Selainn itu, dilakukan tasyakuran makan nasi tumpeng bersama serta  menggelar hiburan rakyat berupa Campur Sari di Balai Desa Podoroto.

Makam kuno ini terpisah dari kompleks makam umum penduduk Dusun Garu, yang saat ini berada di tepi jalan, mudah dijangkau. Lokasi makam Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi berada di dalam dusun. Di kompleks ini juga ada makam lain yang indentitasnya belum terungkap, oleh penulis, diasumsikan merupakan makam pengikut atau santri dari Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi.

Dari Buku Simpul Sejahar Podoroto, Dian Sukarno mengupas, mulai penulusuran pemotretan makam kuno Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi yang dituangkan sebagai sampul buku. Memahami keberadaan makam, warga bersama pemerintah desa merawat, memperbaiki kondisi fisik lingkungan makam, diantaranya, dibangun gasebo dilingkungan makam untuk melindungi posisi makam yang membujur ke utara. Di sekitar makam utama terdapat makam lain yang diduga makam para pengikut atau santrinya.

Warga Desa Podoroto Tasyakuran

Munculnya Nama Podoroto

Menjawab pertanyaan nama Podoroto, tidak memiliki domisili dusun, menurut Dian Sukarno, bisa berawal dari kisah legenda Sungging Purbengkoro, pelukis besar zaman Mojopahit, ketika disuruh membikin layangan oleh Brawijaya V, kemudian benang/tampar layang-layang dipotong, sehingga layangan terbang sampai ke jasirah China, dari atas layangan bisa terlihat, ada kawasan wilayah desa yang permukaan rata semua. “Ini kisah legenda,” tandasnya.

Namun dari naskah Caruban Nagari disebut, Syeh Ass Khofi dimakamkan diereng-ereng lemah roto, yang dimaknai, buminya rata, yang kemudian disebut Podoroto.  Kawasan ini, konon, merupakan wilayah aliran sungai brantas, yang menurut sejarah luas alirannya mencapai 1,5 kilometer, sehingga nama-nama dusun berkaitan dengan perairan dan daratan. Ada Kedungdowo, Kedungboto, Kalimati, Garu dan Ngemplak.

Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi Keturunan ke-23 Rasulullah

Dilingkungan makam tersedia fasilitas seperti adanya pendopo dilengkapi saluran sumber diperuntukkan bagi warga, karena pada hari tertentu warga setempat ada yang mengirim do’a sebagai ungkapan rasa hormat terhadap leluhur Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi yang oleh masyarakat setempat menyebutnya makam Mbak Sentono.

Disampaikan Gus Dyan, dalam buku Simpul Sejarah Podoroto, halaman 173, secara khusus identitas Mbah Sentono tidak lain adalah Kyai Wirasaban alias Ki Ageng Wirasaban atau Aji Molana Sulaiman Sapparudin. Dalam naskah atau sumber lain disebutkan dengan nama Sayyid Syarif Maulana Kahfi Sulaiman Al Maghribi.

Adapun naskah (sisilah) beliau merupakan keturunan ke-23 dari jalur Sayyid Syarif Asy-Syahid Husein cucunda Rasulullah, berdasarkan data yang bersumber dari manuskrip maupun naskah lama seperti: 1. Isbat Nasab Naqib Mesir-Irak-India-Pakistan, 2. Caruban Kanda Carang Statuta (Kesultanan Cirebon), 3. Babat Kesultanan Banten, 4. Data mayor keraton Yogyakarta, 5. Data Sejarah Ratu, 6. Manuskrip Padangan Bojonegoro, 7. Manuskrip Bungah Gresik, 8. Manuskrip Kedungpring Lamongan, 9. Serat Kandha.

Tiga Kali Pesan Gus Dur Terhadap Makam Tokoh di Dusun Garu

Bahkan, mendiang Gus Dur pernah menyampaikan kepada H Fuad Affandi (98/almarhum), tokoh NU, sahabat Gus Dur, tokoh masyarakat Dusun Garu, bahwa di Garu ada tokoh besar yang belum diungkap. Pernyataan Gus Dur disampaikan berulang 3 kali. Menurut, H Cholid Affandi (69 tahun) putra H Fuad Affandi, ucapan itu disampaikan Gus Dur saat Gus Dur silatuhrami di kediaman Abah Fuad di Garu, kedua disampaikan lagi saat berjumpa di Jombang kota, yang ketiga disampaikan ulang saat situasi rapat dengan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor NU Jombang.

“Saat itu, sudah dibahas oleh Ayah (H Fuad, red), bersama beberapa tokoh warga Garu, tentang adanya makam di RT 13, namun sejumlah orang kurang sependapat. Pembahasan dihentikan untuk menjaga keharmonisan karena ada polemik, antara yang setuju dan tidak, dari pada menimbulkan konflik internal di Dusun Garu. Alhamdulillah melalui Kajian Sejarah keberadaannya menjadi jelas,” tukas H Cholid Affandi kepada https://layang.co usai mengikuti acara, Jum’at malam.

Berkaitan dengan itu Dian Sukarno dalam bukunya menukik ucapan Presiden Soekarno, Jas Merah: jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Karena lempengan peradaban bersumber dari tiga ranah alur waktu meliputi, masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Luas Desa Podoroto 450 Hektare, dengan 6.000 jiwa

Kini, Desa Podoroto menurut data Sekretaris Umar Fauzi memiliki luas 450 hektare, dengan komposisi masyarakat heterogen, mayoritas beragama Islam, dengan jumlah penduduk sekitar 6.000 jiwa, tersebar pada 10 Rukun Warga (RW) dan 40 Rukun Tetangga (RT). Di dalam desa ini tumbuh lembaga pendidikan dan lebaga sosisal lain, peradaban masyarakat dinamis harmonis.

Mayoritas penduduk hidup dalam mata pencaharian usaha pertanian, dengan lahan olahan mencapai 350 hektere tersebar pada lima dusun. Sejauh ini warga masyarakat hidup berdampingan saling menjaga dan menghormati satu sama lain.

Kepala Desa Adhim, berharap Simpul Sejarah Podoroto menjadi buah pencarian dan arah dasar kebijakan untuk pembangunan ke depan, terutama sebagai pemahaman bagi generasi pelanjut estafet pembangunan sebagai tombak peningkatan peradaban dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Sedangkan Ketua BPD M Irwani Nasirul Umam menilai, apa yang tertuang dalam buku Simpul Sejarah Podoroto adalah contoh nyata sebuah cita-cita mulia mewujudkan masyarakat Desa Podoroto yang agamis, nasionalis, agraris yang tidak meninggalkan kearifan lokal, menatap masa depan bagi generasi penerus perjuangan bangsa. (dan)

Berita Terkait

Malam Apresiasi Festival Literasi 2026: Selamat Para Pegiat, Pelajar, dan Perpustakaan Desa yang Berprestasi
Kedisiplinan PPPK Paruh Waktu Dievaluasi Melalui Aplikasi SIAP ASN
Jombang Bersholawat Bersama Gus Iqdam, Doakan Jombang Makin Berkah dan Sejahtera
TMMD ke-130 Tahun 2026 Fokus Bangun Infrastruktur Desa Klitih, Plandaan
Komunitas Tombo Ati Sukses Pentaskan Ludruk Kontemporer “WUH” di Jombang Fest 2026
Makanan Pasien Rawat Inap RSUD Jombang Diberikan Melalui Skirining Sesuai Kebutuhan untuk Menunjang Kesembuhan
AI Jombang Gelar Flash Swimming Competition Diikuti 870 Atlet di Kolam Renang UPJB
Disperta Inisiasi Kontes Durian Apitan Wonosalam Varietas Unggul Baru

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Peringati HJD ke-620 Tahun 2026 Podoroto Gelar Dialog Budaya dan Kajian Sejarah Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Malam Apresiasi Festival Literasi 2026: Selamat Para Pegiat, Pelajar, dan Perpustakaan Desa yang Berprestasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Kedisiplinan PPPK Paruh Waktu Dievaluasi Melalui Aplikasi SIAP ASN

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Jombang Bersholawat Bersama Gus Iqdam, Doakan Jombang Makin Berkah dan Sejahtera

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:35 WIB

TMMD ke-130 Tahun 2026 Fokus Bangun Infrastruktur Desa Klitih, Plandaan

Berita Terbaru