Alfan-Aslikah Warga Ngoro Jombang Pengrajin Kostum Wayang Potehi

- Penulis

Senin, 27 Januari 2020 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aslikah Rajin Menjahit Kostum Wayang Potehi

Aslikah Rajin Menjahit Kostum Wayang Potehi

Alfan-Aslikah Warga Ngoro Jombang Pengrajin Kostum Wayang Potehi 

Jombang, layang.co – Alfan-Aslikah, pasangan suami istri di Jombang, Jawa Timur puluhan tahun menekuni usaha kostum Wayang Potehi. Pasangan ini sebagai produksen. Menjahit, merajut, merajinkan potongan kain untuk menjadi busana, atau kostum ini dikerjakan secara manual.

Wayang Potehi, kesenian asal Tiongkok yang selalu hadir di perayaan Tahun Baru Imlek ini memang berbeda dengan wayang kulit. Wayang Potehi mengenakan kostumm berbahan kain, sedangkan wayang kulit, tanpa kostum kain, namun busana atau kostum bergambar ukir, warna warni.

Ketrampilan menjahit dan membordir yang dimiliki pasangan ini sudah menghasilkan ribuan aneka kostum Wayang Potehi berbagai karakter dan model. Di ruangan kecil pinggir jalan di Desa Kauman, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur inilah pasangan suami istri Alfan (56 tahun) dan Aslikah (46 tahun)  memproduksi kostum Wayang Potehi.

Aslikah, sang istri dengan telaten membordir kain yang sudah di skestsanya. Berbagai bentuk kostum khas Tiongkok ini di kerjakan dengan mesin bordir miliknya. Dengan ketekunan keduanya masih tetap menyelesaikan sisa-sisa pesanan kostum Wayang Potehi dari salah satu warga Tionghoa pelanggannya.

Sebelum membordir, perempuan tiga anak ini menggambar sesuai dengan sketsa yang sudah dibuatnya. Sedang sang suami menyelesaikan jahit bagian lain termasuk pernik dan aksesorisnya.

Baca Juga:  Veteran Pejuang Hutan Jombang, Peringati Hari Jadi ke-38 Tahun
Alfan, Serius Menjahit Kostum Wayang Potehi

Pasutri ini mengaku sudah menekuni usaha jahit kostum kesenian asal Tiongkok ini sejak 2011. Awalnya, pasangan ini sempat ragu menerima pesanan kostum munggil dengan segala kerumitannya saat pertama kali ditawari kerjaan. Namun setelah di coba, akhirnya pasutri ini menyukainya. Setiap hari keduanya dia bisa menyelesaiakn dua hingga tiga kostum aneka karakter.

Aslikah mengaku, awal mendapat tawaran pekerjaan ini, kami kesulitan, karena tampak rumit, namun satu dua kali kami lakukan akhirnya terbiasa.

“Modelnya macam-macam. Kalau yang pengerjaan mudah kami bisa merampungkan dua sampai tiga potong. Tapi jika pas sulit, kami butuh waktu beberapa hari, kadang hanya dapat satu potong,” ungkapnya.

Yang sulit kostum panglima, karena ada yang timbul. Ongkos kerja dihargai Rp 40.000 – Rp. 50.000 per potong untuk yang mudah. Adapun yang paling tersulit 100 ribu, jelas Aslikah.

Kostum apakah yang tersulit, Aslikah mengaku kostum jendral yang paling sulit dikerjakan. Karena harus menggunakan kain khusus dan jahit timbul. Untuk ongkos biasanya paling mudah dihargai 50 ribu dan paling mahal bisa mencapai 100 ribu. Apakah  di tahun baru Imlek ini pesanan meningkat, Aslikah mengakui memang ada peningkatan  namun karena tenaga yang dimilikinya terbatas maka dia kerjakan sesuai kemampuannya. (ab/dan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel layang.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pendopo Milik Rakyat, Abah untuk Semua: Bupati Warsubi Tegaskan Pendopo Terbuka untuk Warga
Grebeg Apem 2026 di Jombang: Merawat Tradisi, Sambut Ramadhan 1447 H
Bupati Warsubi: Kesenian Jaranan Dor Akan Dimasukkan Acara Event Jombang Fest Tahun Depan
Terpilih Guk dan Yuk Jombang Tahun 2025, Bupati Minta Terwujud Generasi Berkarakter Memajukan Pariwisata Kabupaten Jombang
Semarak “Ragam Nusantara” di Ringin Contong Carnival Jombang, Rangkaian Perayaan Hari Jadi Ke-115 Pemkab Jombang
PG Djombang Baru Tampil dengan Lokomotif Uap, PDAM Tirta Kencana “Salam Berkah Melalui AMDK Tiber” pada Saat Menyertai Karnaval Mobil Hias Hasil Bumi HUT RI ke-80 di Jombang
Karnaval Mobil Hias Hasil Bumi 2025 di Jombang, Berlangsung Meriah
Hari Jadi Desa Watudakon ke-184 Tahun 2025, Sukses Eksploirasi Kreatifitas Warga dengan Ragam Seni Budaya

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:48 WIB

Pendopo Milik Rakyat, Abah untuk Semua: Bupati Warsubi Tegaskan Pendopo Terbuka untuk Warga

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:48 WIB

Grebeg Apem 2026 di Jombang: Merawat Tradisi, Sambut Ramadhan 1447 H

Senin, 8 Desember 2025 - 14:50 WIB

Bupati Warsubi: Kesenian Jaranan Dor Akan Dimasukkan Acara Event Jombang Fest Tahun Depan

Jumat, 24 Oktober 2025 - 13:48 WIB

Terpilih Guk dan Yuk Jombang Tahun 2025, Bupati Minta Terwujud Generasi Berkarakter Memajukan Pariwisata Kabupaten Jombang

Senin, 20 Oktober 2025 - 14:13 WIB

Semarak “Ragam Nusantara” di Ringin Contong Carnival Jombang, Rangkaian Perayaan Hari Jadi Ke-115 Pemkab Jombang

Berita Terbaru

Hartono, S.Sos., M.M., (tengah/nomor 7 dari kiri) selaku Plt. Kepala Disporapar sekaligus Kepala Bapperida (Badan Perencanaan Pemerintah dan Riset Daerah) Kabupaten Jombang, menyampaikan keputusan besar, saat rapat bersama Camat Wonosalam Yudha Asmara, S.STP., M.E didampingi jajaran Forkopimcam dan seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Wonosalam, Rabu (18/2/2026). Photo: istimewa/Humas Dinas Kominfo.

Pemerintahan

Kenduri Buah Durian Wonosalam Tahun 2026 Ditiadakan, Ini Alasannya

Jumat, 20 Feb 2026 - 10:41 WIB

Photo kiri: Dra Wor Windari, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, photo kanan: Guru dan murid sedang melakukan pembelajaran pada sebuah lembaga pendidikan SMP. Photo: istimewa/edit

Pendidikan

Selama Ramadan, Jadwal Belajar di Sekolah Lebih Singkat

Kamis, 19 Feb 2026 - 11:20 WIB