Dampak Efisiensi Anggaran, Dikbud Tiadakan Lomba Keagamaan Islam Tahun 2026
Jombang, layang.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang sebagai salah satu lembaga pemerintah juga mengalami efisiensi anggaran tahun 2026.
Imbasnya, lembaga ini mengambil kebijakan, yakni meniadakan lomba keagamaan Islam untuk jenjang sekolah dasar di Kabupaten Jombang tahun 2026 ini.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Dra Wor Windari, M.Si melalui Kepala Bidang Pembinaan SD, Rhendra Kusuma, M.Pd mengatakan pada tahun ini pihaknya hanya menggelar lima jenis lomba bagi siswa SD.
”Yang dilaksanakan ada lima lomba, yakni lomba MIPAS, Bahasa dan Seni, O2SN, FLS3N, dan OSN,” ujar Rhendra, Rabu (4/2/2026) lalu.
Menurut Rhendra, lomba keagamaan Islam tidak masuk dalam agenda perlombaan tahun ini. Hal tersebut bukan karena penghapusan nilai keagamaan, melainkan murni akibat keterbatasan anggaran.
”Alasannya karena efisiensi anggaran,” jelasnya.
Lomba yang ada Jenjang Tingkat Nasional
Ia menambahkan, dari lima lomba yang digelar, tiga di antaranya memiliki jenjang hingga tingkat nasional.
Ketiganya adalah Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), serta Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Sementara itu, dua lomba lainnya, yakni MIPAS serta Bahasa dan Seni, hanya dilaksanakan hingga tingkat kabupaten.
”Iya, MIPAS dan Bahasa dan Seni hanya sampai tingkat kabupaten,” tegas Rhendra.
Lomba keagamaan islam menjadi lomba tahunan yang selalu dinantikan siswa. Lomba keagamaan Islam terakhir diadakan tahun 2025.
“Ada tujuh cabang lomba yang diadakan. Lomba banjari, tahfiz Alquran, baca kitab, pildacil, tartil Alquran, qiroah dan kaligrafi,” terangnya.
KKG PAI SD Gelar Lomba Mandiri
Secara terpisah, Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) SD Kabupaten Jombang memastikan ajang tersebut tetap berjalan melalui pelaksanaan secara mandiri, dengan rekomendasi resmi dari Disdikbud Kabupaten Jombang.
Sekretaris KKG PAI SD Kabupaten Jombang, Adlan Fahmi, mengatakan keputusan diambil agar pembinaan dan regenerasi peserta lomba keagamaan tidak terputus.
”Kami adakan secara mandiri dengan rekomendasi dinas. Jadi nanti tetap ada tanda tangan dinas di sertifikat, sehingga sertifikat juara bisa digunakan untuk mendaftar jenjang SMP melalui jalur prestasi,” ujar Adlan.
Menurutnya, ajang lomba tersebut dinilai memiliki gengsi tinggi, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Bahkan, persiapan lomba dilakukan secara serius oleh sekolah-sekolah.
Biaya Swadaya dan Persiapan Bukan Tiba-tiba
”Lomba keagamaan ini tidak bisa disiapkan secara instan. Anak-anak tidak tiba-tiba bisa baca kitab, tidak tiba-tiba hafal Juz 30, tidak tiba-tiba bisa banjari. Proses pengkaderannya sudah berjalan lama. Kalau tiba-tiba dihilangkan, kasihan anak-anak,” ungkapnya.
Terkait pendanaan, akan mengupayakan secara mandiri dukungan biaya swadaya maupun sponsor.
”Ini lomba yang betul-betul bergengsi. Kecamatan pun mati-matian mempersiapkan. Sangat disayangkan jika sampai terputus, maka kami upayakan tetap melaksanakan,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti perkembangan positif kualitas pendidikan keagamaan di Jombang. Menurutnya, dengan dukungan tiga pilar keagamaan, yakni PAI, pilar keagamaan, dan pendidikan diniyah, kemampuan siswa terus meningkat dan semakin merata.
”Dulu awal-awal lomba juaranya banyak dari SDIT, tapi sekarang sudah merata. SD Negeri sudah imbang dengan SDIT, bahkan dengan MI. Ini menunjukkan mutu keagamaan dan diniyah benar-benar meningkat dan menjadi daya tarik tersendiri,” pungkasnya.
Meski demikian, Rhendra Kusuma, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang mengaku, hingga kini belum ada pemberitahuan resmi dari KKG PAI terkait penyelenggaraan lomba keagamaan secara mandiri. ”Belum ada Info dari KKG PAI,” singkatnya. (dan)














