Petani Banjarsari, Bareng Jombang Gelar Ritual Tolak 4 Balak di Sawah

- Penulis

Selasa, 21 Januari 2020 - 18:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Tani Berdatangan Membawa Jajanan 4 macam

Petani Banjarsari, Bareng Jombang Gelar Ritual Tolak 4 Balak Musibah di Sawah 

Jombang, layang.co – Memasuki musim tanam padi di awal tahun 2020 para petani warga Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menggelar ritual unik.

Ritual dengan cara tasyakuran jajanan tradisional buah tangan ibu rumah tangga keluarga tani. Jajanan itu selain boleh dimakan langsung di tempat ritual, juga boleh saling tukar menukar jajanan yang mereka bawa.

Ritual pun digelar di lokasi yang diyakini sebagai Petilasan Sunan Kudus di lingkup Dusun Banjarsari. Di tempat itu tersebut selain do’a bersama, juga selamatan empat macam jajan.

Yaitu clorotan,  pasung,  brondong serta kerupuk. Masing-masing jajan menurut warga setempat dipercaya memiliki filosofi menolak balak.

Pagi hari ketika jarum jam menunjukkan angka 07.00 WIB, para warga tani Dusun Banjarsari mulai berdatangan ke area Petilasan Sunan Kudus, yang terletak  di pemakaman pinggiran dusun.

Warga Tani Menikmati Jajanan Tradisional Buatan Ibu Rumah Tangga Petani

Masing-masing petani membawa tumpeng khas. Tumpeng yang dibawa sebagai sedekah petani kepada sesama.

Kekhasan tumpeng karena bukan merupakan nasi dan lauk pauk, melainkan berisi jajanan, sebagai sedekah wajib dalam ritual ini. Yaitu kue clorotan, mirip kue lepat namun berisi tepung. Kue pasung,  semacam jenang beras bercampur nangka yang dibungkus daun nangka. Brondong,  bisa berupa brondong jagung ataupun brondong beras ketan dan harus ada kerupuk.

Baca Juga:  DLH Jombang Gelar Apel Hari Lingkungan Hidup, Pj Bupati Ajak Warga Jaga Bumi Resik dan Lestari

Lewi (60 tahun) seorang tokoh masyarakat setempat yang juga petani menjelaskan, tujuan petani selamatan jajanan ini adalah menolak berbagai balak.

Menurutnya, kue clorotan bermakna menolak sambaran petir. Pasung dipercaya memberi makna menolak suara guruh, yang gembelegar. Jajan brondong dimaknai menolak longsor dan kerupuk menolak  terjangan angin kencang.

Dari filosofi seperti itu, sehingga diharapkan petani  dalam melakukan aktifitas pekerjaan di tengah persawahan terhindar dari empat macam balak ketika mengolah sawah.

Acara clorotan diawali dengan berbagai penjelasan tujuan dan makna clorotan oleh tokoh masyarakat yang juga petani setempat. Kemudian dibacakan doa. Setelah pembacaan doa  untuk Sunan Kudus yang diyakini sebagai Wali yang membuka (membabah) berdirinya Dusun Banjarsari,  barulah tumpeng jajanan pasar di makan bersama-sama.

“Ritual clorota merupakan ritual tahunan yang telah digelar petani Dusun Banjarsari sejak tahun 1950 silam. Dan berkat pertolongan Alloh SWT, tidak pernah ada petani setempat yang tertimpa balak tersambar petir, angin kencang ataupun balak lainnya,” ungkapnya. (ab/dan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel layang.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pendopo Milik Rakyat, Abah untuk Semua: Bupati Warsubi Tegaskan Pendopo Terbuka untuk Warga
Grebeg Apem 2026 di Jombang: Merawat Tradisi, Sambut Ramadhan 1447 H
Bupati Warsubi: Kesenian Jaranan Dor Akan Dimasukkan Acara Event Jombang Fest Tahun Depan
Terpilih Guk dan Yuk Jombang Tahun 2025, Bupati Minta Terwujud Generasi Berkarakter Memajukan Pariwisata Kabupaten Jombang
Semarak “Ragam Nusantara” di Ringin Contong Carnival Jombang, Rangkaian Perayaan Hari Jadi Ke-115 Pemkab Jombang
PG Djombang Baru Tampil dengan Lokomotif Uap, PDAM Tirta Kencana “Salam Berkah Melalui AMDK Tiber” pada Saat Menyertai Karnaval Mobil Hias Hasil Bumi HUT RI ke-80 di Jombang
Karnaval Mobil Hias Hasil Bumi 2025 di Jombang, Berlangsung Meriah
Hari Jadi Desa Watudakon ke-184 Tahun 2025, Sukses Eksploirasi Kreatifitas Warga dengan Ragam Seni Budaya

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:48 WIB

Pendopo Milik Rakyat, Abah untuk Semua: Bupati Warsubi Tegaskan Pendopo Terbuka untuk Warga

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:48 WIB

Grebeg Apem 2026 di Jombang: Merawat Tradisi, Sambut Ramadhan 1447 H

Senin, 8 Desember 2025 - 14:50 WIB

Bupati Warsubi: Kesenian Jaranan Dor Akan Dimasukkan Acara Event Jombang Fest Tahun Depan

Jumat, 24 Oktober 2025 - 13:48 WIB

Terpilih Guk dan Yuk Jombang Tahun 2025, Bupati Minta Terwujud Generasi Berkarakter Memajukan Pariwisata Kabupaten Jombang

Senin, 20 Oktober 2025 - 14:13 WIB

Semarak “Ragam Nusantara” di Ringin Contong Carnival Jombang, Rangkaian Perayaan Hari Jadi Ke-115 Pemkab Jombang

Berita Terbaru

Hartono, S.Sos., M.M., (tengah/nomor 7 dari kiri) selaku Plt. Kepala Disporapar sekaligus Kepala Bapperida (Badan Perencanaan Pemerintah dan Riset Daerah) Kabupaten Jombang, menyampaikan keputusan besar, saat rapat bersama Camat Wonosalam Yudha Asmara, S.STP., M.E didampingi jajaran Forkopimcam dan seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Wonosalam, Rabu (18/2/2026). Photo: istimewa/Humas Dinas Kominfo.

Pemerintahan

Kenduri Buah Durian Wonosalam Tahun 2026 Ditiadakan, Ini Alasannya

Jumat, 20 Feb 2026 - 10:41 WIB

Photo kiri: Dra Wor Windari, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, photo kanan: Guru dan murid sedang melakukan pembelajaran pada sebuah lembaga pendidikan SMP. Photo: istimewa/edit

Pendidikan

Selama Ramadan, Jadwal Belajar di Sekolah Lebih Singkat

Kamis, 19 Feb 2026 - 11:20 WIB