Jangan Ragu Datang Berobat ke RSUD, Layanan Pasien Covid-19 dan Non Covid Beda Jalur

0
284
Kepala Seksi Keperawatan RSUD Jombang Nasrullah, S.Kep.Ns., M.Kes.

Jangan Ragu Datang Berobat ke RSUD, Layanan Pasien Covid-19 dan Non Covid Beda Jalur

INILAH pesan yang disampaikan Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran, M.KP melalui Kepala Seksi Keperawatan Nasrullah, S.Kep.Ns., M.Kes., saat berbincang dengan http://layang.co tentang tata laksana penanganan pasien normal dan pasien positif Covid-19 di RSUD Jombang.

Menurut Nasrullah proses layanan sudah dibedakan, mulai pasien datang sebelum masuk  UGD maupun ke Poli umum, baik yang rawat jalan maupun rawat inap. Sebelum pasien masuk, sudah dilakukan screning, bagi pasien maupun pengantar.

Screning untuk melihat keadaan pasien, apakah pasien ini terindikasi Covid-19 atau tidak. Apabila ada tanda suhu tubuh panas, diikuti batuk, mungkin terindikasi Covid. Jika demikian maka pasien diarahkan ke ruang pojok Covid-19. Sedang bagi pasien yang non Covid melakukan pendaftaran ke layanan Poli.  “Ini untuk pasien yang rawat jalan,” tandas Nasrullah.

Sedang layanan di UGD sebelum menentukan jenis penyakit, kepada pasien dilakukan trease. Apabila screning hasilnya diketahui, maka ada dua jalur, yang terindikasi Covid-19 masuk melalui jalur pojok Covid untuk dilakukan screning lebih jauh, kemudian dilakukan pemeriksaan yang mengarah. Setelah ada keputusan harus ngamar, pasien masuk melalui jalan tersendiri yang terpisah dari non covid. Begitu pula cara pelayanannya, mendapat penangan terpisah menuju  Ruang Perawatan Khusus (RPK).

Pada RPK ini penegakan diaknose Covid  belum bisa diterapkan 100%, proses ini dikenal dengan nama Suspec, menunggu hasil polymerase chain reaction (PCR), dalam 24 jam bisa diketahui. “Hasil ini menentukan apakah pasien ini ke ruang isolasi Covid atau ke ruang perawatan biasa,” jelas Nasrullah yang pernah bertugas sebagai Case Manager, yakni petugas medis yang menangani segala problem pelayanan pasien ini.

Hasil pemeriksaan inilah yang terkadang membuat kesan masyarakat “pasien dicovidkan”. “Sejauh ini tidak ada pihak Rumah Sakit mengcovidkan pasien. Kondisi ini terkadang sulit menjelaskan  pada keluarga pasien. Bahkan kadang melibatkan pihak penegak hukum tiga pilar (Polisi, TNI, Pemerintah Desa) untuk menjelaskan atau menyampaikan terhadap kondisi pasien, yang meninggal sebelum hasil pemeriksaan medis keluar,” ungkap alumnus S2 Perawat dari Surya Mitra Husada Kediri ini.

Padahal, Rumah Sakit berupaya maksimal, untuk memberikan kenyamanan bagi pasien, keluarga maupun  petugas medis. Saat menunggu hasil pemeriksaan belum selesai, yang disebut probeble, namun pasien tidak tertolong sebelum mengetahui tanda-tanda klinis.

“Di sini, muncul kesan pasien di covidkan, sehingga harus dilakukan pemulasaraan,” katanya. Yang Covid-19 pemulasaraan pasien dilaksanakan berdasarkan Peraturan Kementrian Kesehatan RI, Permenkas Nomor: HK.0107/Menkes/413/2020  untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat dan keluarganya pasien.

Itu pola pelayanan bagi pasien terindikasi Covid-19. Bagaimana terhadap pasien yang non covid, lanjut Nasrullah,  sama! juga mengalami dua kali pemeriksaan. Apabila dua kali betul-betul negatif maka dimasukkan pada ruang tersendiri, untuk penanganan pasien yang negatif. Pelayanan oleh tenaga medis menerapkan standart biasa, cukup mengenakan APD level 1, bermasker sarung tangan.

Lantas bagaimana yang dimasukan pada ruang pojok covid, karena sudah ada indikasi Covid maka layanan menerapkan protokol kesehatan, tim medis, perawat dan dokter menggunakan APD level 3, masker R-95, ada Faceshild, pakaian khusus, sepatu khusus yang dilapisi coversus hanya sekali pakai, setelah itu dibakar.

Jadi dalam hal ini sarana transportasi di RS juga betul-betul kita pisah antara yang positif Covid-19 dan yang non Covid, tidak bersentuhan satu sama lain antar pasien.  Begitu pula setelah pasien mendapat perawatan, kemudian dilakukan evaluasi. Misalnya Foto Rontgen untuk melihat perkembangan Paru,  juga dilakukan terpisah antara pasien covid dan non covid.

Nasrullah menyesalkan timbulnya stigma sebagian masyarakat yang menganggap tertular Covid-19 bagaikan mendapat penyakit aib. Sehingga penderita dikucilkan. Siapapun bisa tertular virus ini, apalagi belakanan aktifitas masyarakat bebas bergerak, bisa tertular dimana saja oleh siapa saja. Justru kita harus mendukung membantu  kebutuhan penderita agar isolasi mandiri  tidak keluar rumah untuk mencari makan, yang risikonya bisa menularkan virus covid.

“Sebab itu, setiap warga masyarakat harus disiplin mengenakan masker secara tepat menutup mulut dan hidung pada segala situasi, bukan hanya taat membawa masker,” tutur Nasrullah yang pernah bertugas di ruang operasi 23,5 tahun ini.

Kepala Seksi Keperawatan yang pernah tugas di Poli Bedah, 2,5 tahun ini berpesan, jangan sampai sudah sakit parah baru mulai datang berobat. Tetapi, ketika  mulai terasa ada rasa sakit segeralah berobat sebelum daya tahan tubuh menurun. Apabila daya tahan tubuh menurun  penyakit virus memungkinkan menyerang lebih kuat pada saat daya tubuh kita sudah lemah.

“Jadi jangan ragu, berobat di UGD atau melalui layanan Poli, rawat inap maupun rawat jalan jalur pelayanan sudah dipsahkan. Kemungkinan tertular sangat kecil karena layanan sudah dipisahkan, tidak bersentuhan satu sama lainnya,” tutupnya. (edy danu puspito)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here